Sejarah Jakarta Golf Club

Menurut catatan sejarah, Batavia Golf Club adalah klub pertama yang didirikan di Hindia Belanda atau Indonesia pada tahun 1872. Pendirinya adalah Mr. A. Gray dan Mr. T.C Wilson. Saat itu jumlah anggotanya ada 16 orang dan berasal dari Inggris. Lokasi awal lapangan ini berada di Jakarta, tepatnya di kawasan Gambir, yang dahulu bernama Koningsplein.

Bukti bahwa permainan golf berada di Koningsplein adalah literatur dari The Annual Golfing volume 13, catatan A. Gray presiden pertama perkumpulan Batavia Golf Club mengatakan, “lapangan dengan jumlah 9 hole yang bervariasi dari 210 hingga 450 yard, 36 par berada di King’s Park”. King’s Park sendiri adalah istilah Inggris untuk Koningsplein. Ini menjadi fakta yang membuktikan bahwa Batavia Golf Club sebagai sebuah klub telah berdiri sejak tahun 1872 dengan lapangan golfnya berada di Koningsplein atau Gambir.

 Saat masih di Koningsplein, Batavia Golf Club sempat vakum selama 20 tahun. Masa ini ditandai dengan tidak adanya pengurus atau presiden klub serta tidak adanya pertandingan-pertandingan, ini menyiratkan aktifitas klub secara resmi tidak ada, namun kegiatan bermain dan berkumpul para anggota Batavia Golf Club tetap berjalan. Pada bulan Agustus 1894, dalam rapat yang diadakan di rumah seorang konsulat Inggris, Mr. K.A Stevens, klub Batavia Golf Club kembali bangkit. Kala itu segala sesuatunya ditata dengan baik hanya dalam waktu 10 hari, jumlah anggota meningkat menjadi 32 orang dan Mr. S. R Lankester dipilih menjadi presiden perkumpulan.

Perkembangan Batavia yang pesat dari waktu ke waktu menuntut perluasan daerah. Batavia Golf Club sendiri kemudian seiring dengan perkembangan kota Batavia, mulai berpindah tempat. Pada tahun 1911, Batavia Golf Club pindah ke daerah Bukit Duri, Jakarta dan kemudian pindah lagi ke daerah Rawamangun sejak tahun 1937 hingga saat ini. Selama 26 tahun keberadaannya di Bukit Duri merupakan era yang lebih maju dalam menuangkan pemikiran bagi  perkembangan Batavia Golf Club di masa depan.

Pada tahun 1930, Pengurus Batavia Golf Club saat itu berjumlah 8 orang, yang terdiri dari 5 warga Inggris, 2 warga Amerika Serikat dan 1 warga Belanda. Jumlah pengurus ini mewakili komposisi banyaknya jumlah anggota menurut kebangsaan. Salah satu keputusan penting pengurus tahun itu adalah rencana membuat lapangan dan club house baru di lokasi yang baru.

Pemerintah Belanda mengajukan persyaratan bagi Batavia Golf Club untuk mendapatkan persetujuan Batavia Golf Club dapat pindah ke tempat  yang baru. Persyaratan yang harus dipenuhi adalah klub wajib membangun jalan untuk mobil sepanjang lebih dari 1 mil. Para anggota Batavia Golf Club saat itu bersama-sama membantu pengurus untuk melaksanakan rencana ini. Desainer lapangan golf Batavia Golf Club untuk lokasi baru adalah Mr. Simpson dari Liphook, Newshampire – Inggris.

Demi menjadikan Batavia Golf Club sebagai klub resmi yang diakui pemerintah Hindia Belanda saat itu, pengurus Batavia Golf Club menyusun Anggaran Dasar Perkumpulan, yang kemudian disahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 16 September 1932. Anggaran Dasar itu dimuat dalam Tambahan Berita Negara, yang dahulu disebut Extra Bijvoesgel der Javasche Courant, tertanggal 27 September 1932. Dalam pasal 1 Anggaran Dasar dinyatakan bahwa Perkumpulan didirikan untuk waktu yang tidak terbatas dan terhitung sejak tanggal 28 Agustus 1932. Jadi tanggal 28 Agustus 1932 merupakan tanggal resmi berdirinya Perkumpulan Batavia Golf Club.

Setelah melalui proses dan perjuangan yang cukup panjang, akhirnya pada 27 Februari 1937, lapangan baru milik Batavia Golf Club dengan jumlah 18 hole dan sekaligus club housenya diresmikan di lokasi yang baru, yaitu di daerah Rawamangun – Jakarta. Banyaknya pengurus dan anggota yang berasal dari Eropa, khususnya dari Inggris menyebabkan lapangan golf di Rawamangun menjadi terkenal dengan julukan ‘Lapangan Inggris’.

Ketika Jepang datang tahun 1942 dan mulai menguasai Indonesia, pemerintah Jepang yang berkuasa saat itu mengganti semua istilah Belanda dengan istilah lokal. Batavia sebagai nama kota yang namanya diberikan dengan istilah Belanda diganti menjadi Djakarta. Maka sejak saat itu Batavia Golf Club berganti nama menjadi Djakarta Golf Club.

Seiring semakin banyaknya warga Indonesia yang menjadi anggota perkumpulan, menyebabkan komposisi pengurus juga melibatkan warga Indonesia di dalamnya. Kepengurusan tidak lagi didominasi warga asal Eropa. Puncaknya adalah pada tahun 1959, Mr. Senu Abdul Rahman, seorang yang bukan berasal dari Eropa untuk pertama kali menjadi presiden perkumpulan. Sedangkan orang Indonesia pertama yang menjadi presiden perkumpulan adalah Bapak E. Martadinata pada tahun 1960.

Lapangan golf Djakarta Golf Club saat mulai berlokasi di Rawamangun pada awalnya memiliki lahan yang lebih luas dari pada sekarang, namun karena pada saat itu Pemerintah Indonesia membutuhkan lahan untuk pembangunan kampus dan asrama mahasiswa Universitas Indonesia, maka sebagian lahan lapangan golf Djakarta Golf Club mengalami pengurangan. Pembangunan kampus UI pada tahun 1953 tersebut mengharuskan penggunaan sebagian lahan Djakarta Golf Club.

Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah". Dengan berlakunya Ejaan Yang Disempurnakan, maka istilah Djakarta Golf Club berganti menjadi Jakarta Golf Club atau JGC yang kemudian ditetapkan penggunaannya dalam Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan yang disahkan melalui Rapat Umum Anggota Luar Biasa tanggal 28 Mei 1978. Dalam Anggaran Rumah Tangga tersebut, lambang Perkumpulan atau logo JGC sudah ditetapkan.

Jejak lokasi sejarah yang dapat ditelusuri mengenai Jakarta Golf Club, mulai dari kawasan Gambir, pindah ke Bukit Duri, hingga akhirnya menetap di Rawamangun merupakan bukti keberadaannya yang sejak tahun 1872 hingga saat ini adalah rangkaian masa yang tak terpisahkan dengan sejarah Jakarta, yang mana hal ini tentu saja juga menjadi tonggak sejarah olah raga golf di Indonesia dan menjadikan suatu kebanggaan bagi para anggota perkumpulan Jakarta Golf Club.